Senin, 19 April 2010
Chatting Melalui Internet
Chatting adalah fasilitas di Internet yang setiap orangnya melakukan kontak sosial (aksi individu atau kelompok dalam bentuk isyarat yang memiliki makna bagi si pelaku dan si penerima dan si penerima membalas aksi itu dengan reaksi) yang tergolong tidak langsung seperti halnya pesawat telpon, radio, TV, telegram, surat dan lain sebagainya. Dalam chatting sendiri dikenal istilah nick name (nama samaran bagi pengguna chatting), channel (kelompok berkumpulnya para nick name), asl pls (sapaan awal yang berarti menanyakan umur, jenis kelamin, asal dan silahkan) serta bentuk interaksi berupa icon-icon emosi lainnya yang mewakili suasana hati dari nick name tersebut seperti halnya ☺,☻dan lain sebagainya.
Secara Sosiologis, hubungan chatting di Internet dipandang sebagai non-masyarakat, hal tersebut dikarenakan tiadanya pola dalalm sistem interaksi yang terjadi. Sedangkan pengertian masyarakat itu sendiri adalah kelompok manusia yang secara nisbi/relatif mampu menghidupi kelompoknya sendiri, bersifat independen atau bebas dan mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan serta kegiatannya berlangsung di dalam kelompok itu sendiri. Jadi dalam hubungan chatting segalah hal yang berlangsung sifatnya hanya sementara dimana interaksi yang terjadi didalamnya tidak akan mungkin untuk membentuk suatu kebudayaan khusus seperti halnya pola ‘Gemeinschaft’ (Paguyuban) dan ‘Gesellschaft’ (Patembayan) yang menjadi ciri khas jalinan hubungan dalam masyarakat. Dalam hal ini diartikan, bila seseorang dengan nick name cew_suka_cow_cool bertemu dan berinteraksi dengan nick name yang bertuliskan cow_cari_cew, bukan berarti si cewek tersebut benar-benar suka dengan si cowok dengan nick name tersebut (bila interaksinya berlangsung positif) karena bisa saja si cewek tersebut sedang iseng untuk chatting dan sebagai pekerjaan sambilan disamping mencari tugas sekolah atau kuliahannya di Internet dan bertepatan pada saat itu hal popoler yang didengarnya adalah mengenai ‘ke-cool-an’ seorang cowok dan bisa saja pergi meninggalkannya begitu selesai dengan urusan pentingnya. Sikap berprasangka yang mengarah ke mental disoder dan perilaku menyimpang akan mungkin terjadi bila interaksi positif yang terjadi selama chatting tersebut tidak dilanjutkan dalam sebuah aktivitas konvensional (jelas) yang bersifat positif dan mematuhi aturan-aturan interaksi sosial yang dipandang sah dalam masyarakatnya.
Dalam chatting, memungkinkan juga untuk terjadinya sebentuk manipulasi terhadap publik karena sifatnya yang demokratis (interaksi dalam chatting tanpa memandang jabatan, suku bangsa, umur dan jenis kelamin) dimana diperlukan imajinasi sosiologi (melihat tembus, melihat dibalik) ketika berinteraksi dan berkomunikasi antar nick name. Bila berinterksi dengan nick name cew_alim yang bisa diartikan seorang perempuan yang salehah dan punya nilai-nilai agama maka secara rasional kita berpikir sedang berinteraksi dengan seorang yang baik (non-deviant) dan berasumsi pasti tidak sosiopatik serta humanistis terhadap orang yang diajak berinteraksi tersebut. Namun ketika selama proses interaksi terjadi lewat chatting tersebut, tanpa ada kata-kata pancingan dia mulai menanyakan hal-hal yang berbau mesum/cabul atau porno, dapat dipastikan untuk melakukan pemahaman empatik dan apresiatif terhadapnya (karena adanya ketimpanagan Das Sein dengan Das Sollen) dengan asumsi apakah karena dia seseorang yang sedang mencoba bergaul lebih dalam untuk mencari pengetahuan mengenai hal tersebut ataukah dia seorang Deviant (Pe-Es-Ka atau pelacur) yang sedang beradaptasi dengan Teknologi Informasi dalam mencari pelanggannya dan dikarenakan pemahaman agamanya tertentu pula lalu membuat nick name tesebut untuk menutupi status aslinya ataupun mempositifkan konsep dirinya. Hal-hal seperti ini tentu berlaku pula bagi bentuk-bentuk penyimpangan perilaku lainnya seperti ‘pendistribusian’ narkoba, homoseksualitas oleh kaum gay dan lesbian maupun sebuah konspirasi mengenai pembunuhan.
Adapun segala bentuk tindakan penyimpangan (Deviant) yang terjadi karena chatting bisa saja disebabkan karena kuranganya Innner contaiment (kungkungan dalam diri) dan Outer contaiment (aturan-aturan yang berasal dari luar diri seperti polisi, orang tua atau teman dari user internet tersebut). Penyimpangan karena kurangnya Inner contaiment dicontohkan sebagai seorang individu yang memiliki keimanan dalam agamanya ketika berinteraksi di internet mengalami ‘cultural shock’ dalam adaptasinya terhadap dunia informasi teknologi (maklum…individu dari negara baru berkembang, dunia III) sehingga ketika chatting terpengaruh terhadap interaksi yang cenderung melanggar dan melunturkan nilai-nilai keimanan yang dimilikinya sehingga kekuatan egonya tidak bisa lagi mengatasi perilakunya terhadap tindakan deviasi yang akan dilakukannya. Selain itu dalam proses chatting yang tanpa ada seorangpun menemaninya ketika berchatting-ria tersebut seperti teman maupun orangtua (atau polisi yang sedang berdiri disampingnya?) akan menyebabkan dia cenderung melakukan perbuatan deviasi lainnya.
Seperti yang dibicarakan sebelumya, bahwa hubungan chatting di internet bukanlah merupakan sebuah bentuk masyarakat sehingga tidak ada hal-hal yang berbau ‘Social Control’ terhadapnya. Jadi bila lawan chatting mengirimkan simbol-simbol merangsang libido dan pernyataan ‘perang’ sekalipun maka hal tersebut tidak akan ada sangsinya yang tegas baik dari user maupun pengelola internet tersebut yang hanya bisa mencantumkan kata-kata yang umumnya berbunyi “Dilarang membicarakan mengenai sex dan pelecehan terhadap Suku, Agama, Ras dan Antar golongan ataupun “Dilarang merokok, melihat situs porno dalam ruangan internet” yang ditempelkan di dinding-dinding ruang tempat mengakses internet tersebut. Hal itu bisa dipandang sebagai sebentuk kekuatan dan tindakan yang benar/sah selama berchating ria maupun dalam ruangan tempat mengakses internet tersebut namun umumnya tanpa ada sangsi yang tegas terhadap perilaku menyimpang yang terjadi.
Selain itu, chatting yang bukan merupakan sebuah bentuk masyarakat sehingga individu pengguna chatting tersebut umumnya tidak berkomitment untuk terikat (chatting dengan seseorang yang sedang populer dalam komunitas pergaulan), terlibat dalam kegiatan yang jelas (jangan-jangan si dia yang lagi diajak chatting tersebut sedang makan, minum dan lain sebagainya) maupun tidak adanya kepercayaan terhadap aturan sosial yang valid dan diterima (aturan-aturan dalam chatting berpulang kepada individu) sehingga tindakan deviasi bisa saja terjadi baik dari chatting via Personal Computer di rumah maupun dari dalam bilik ruangan sebuah warung internet dimana tidak semua tindakan deviasi tersebut akan berdampak pada orang lain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar